Sebagaimana anak-anak Indonesia lain yang tidak memiliki
dokumen lengkap di negeri Malaysia,
Nurhayati juga merasakan sedihnya tidak bisa melanjutkan pendidikan selama
belajar di sekolah negeri Malaysia. Apa mau dikata, Nurhayati memang warga
asing ilegal yang tidak boleh bersekolah di sekolah negeri Malaysia. Keluar
sekolah adalah satu-satunya jalan yang harus diambil Nurhayati, karena
kemungkinan untuk bersekolah di sekolah swasta pun sangat kecil dengan biaya
pendidikan yang begitu tinggi.
Menjelang ujian nasional tingkat sekolah
rendah (istilah sekolah dasar di
Malaysia) yang diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia, Nurhayati justru
mendapatkan kabar buruk yang tidak pernah ia lupakan. Nurhayati yang bersekolah
dari tahun 2002-2006 di sekolah negeri Malaysia terpaksa harus keluar tanpa
boleh mengikuti ujian kelulusan. Alasannya hanya satu, dia bukan warga negara
Malaysia, dan bukan pula warga asing yang memiliki izin tinggal yang sah. Bagi
Nurhayati cilik yang ketika itu masih duduk di tingkat sekolah dasar tidak bisa
memahami keadaan yang menimpanya. Bukankah
saya sedari lahir di sini, dan tidak pernah merasa bermasalah sekolah di sini,
mengapa saya harus kelluar, padahal saya tidak berbuat nakal. Mungkin hal
tersebut lah yang ada dalam benak hati Nurhayati semasa kecil.
Selama dua tahun setelah berhenti dari
sekolah, Nurhayati harus menerima melihat teman-temannya tetap bisa bersekolah
dan melanjutkan ke tingkat SMP, sedangkan ia harus berhenti sekolah. Sebagai
orang yang lahir dan besar di negeri Malaysia, Nurhayati pun tak bisa langsung
mengerti mengapa perlakuan berbeda ia dapatkan. Jawaban yang Nurhayati dengar
dari kedua orangtuanya adalah “Karena kamu anak Indonesia”. Nurhayati pun tak
bisa langsung mengerti, menginjak tanah Indonesia saja ia belum pernah.
Walikelas Nurhayati di sekola Malaysia pun yang merupakan tetangganya selalu
berusaha agar ia dapat bersekolah, tetapi masalah ketidaklengkapan dokumen
Nurhayati menjadi kendala utama, ia tidak dapat bersekolah.
Doa Nurhayati dan anak-anak Indonesia lain di
Malaysia sepertinya dikabulkan, Pada tahun 2008, tepatnya pada 1 Desember,
Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) mulai beroperasi. Orangtua Nurhayati
sebelumnya mendapatkan kabar dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI)
Kota Kinabalu bahwa bisa mendaftarkan anaknya untuk bersekolah di SIKK.
Meski sudah dapat bersekolah, ketika itu SIKK
adalah merupakan “sekolah darurat” yang sedang dalam usaha untuk melengkapi
sejumlah berkas untuk dapat beroperasi secara legal di Malaysia. Siswa-siswa
yang diterima di sekolah pun tidak langsung legal dan mendapatkan paspor,
Nurhayati pun masih berstatus sama sebagai pendatang asing ilegal, bedanya kini
ia telah dapat bersekolah.
Perjalanan dari dan menuju ke sekolah pun
merupakan suatu hal yang riskan, salah-salah jalan ia dapat tertangkap oleh
pihak berwenang. Nurhayati tinggal lumayan jauh dari sekolah, di depan
perumahan yang memang terkenal dengan banyaknya pendatang ilegal dari luar
Malaysia. Suatu malam, rumah Nurhayati dimasuki oleh pihak berwenang, mereka
datang untuk menangkap seluruh warga yang tidak memiliki dokumen lengkap. Tak
pandang umur, anak kecil pun ikut dibawa ke rumah tahanan sementara (RTS).
Nurhayati mengatakan pada redaksi cabepedas.id bahwa tak pernah menyangka akan
ditangkap di tanah kelahirannya sendiri.
KJRI Kota Kinabalu dan SIKK pun melakukan
diplomasi dengan berbagai pihak termasuk polisi dan imigrasi setempat agar
anak-anak tersebut dapat bebas dan kembali bersekolah seperti biasa. Anak dari
pasangan Laguna dan Aminah ini masih ingat bagaimana gurunya yang bernama
Gunawan dan pegawai SIKK yang bernama Dzulkifli berusaha berbicara dengan pihak
berwenang Malaysia untuk mengeluarkannya dari RTS. Akhirnya, Nurhayati pun boleh keluar
dengan berbagai macam persyaratan.
Mencegah kejadian serupa terjadi pada siswa-siswa
Indonesia di Malaysia, KJRI Kota Kinabalu dan SIKK bekerjama untuk melakukan
legalisasi bagi para siswa. Hal tersebut memungkinkan untuk terjadi dengan
syarat ratusan siswa tersebut harus keluar dulu dari wilayah Malaysia.
Nurhayati dan teman-teman lain melakukan perjalanan panjang menuju timur negeri
Sabah, kemudian menyebrangi perairan untuk masuk ke wilayah Indonesia tepatnya
di Nunukan Kalimantan Utara (ketika itu masih Kalimantan Timur-pen). Nurhayati
dan teman-temannya yang berjumlah sekitar 500 orang bermalam dulu selama
beberapa hari, sambil menunggu pembuatan paspor di imigrasi daerah setempat,
baru kemudian masuk kembali ke negeri Sabah-Malaysia.
Tak mau menyia-nyiakan usaha guru-guru dan
pegawai pemerintah Indonesia di KJRI Kota Kinabalu, Nurhayati memanfaatkan
kesempatannya untuk bersekolah dengan baik. Ketika dinyatakan lulus tingkat
SMP, kepala sekolah ketika itu juga mengumumkan bahwa Nurhayati berkesempatan
untuk melanjutkan sekolah ke Indonesia dengan beasiswa. Terpilihnya Nurhayati
melanjutkan pendidikan ke Permata Insani Islamic Boarding School dengan
beasiswa adalah juga berkat raihan nilai Nurhayati yang termasuk di atas
rata-rata dibandingkan dengan teman-teman lainnya.
Nurhayati merupakan anak yang aktif
berkegiatan ekstrakurikuler di jenjang SMA, perempuan kelahiran Kota Kinabalu
ini pernah mengikuti lomba Karya Ilmiah Remaja mewakili sekolah di tingkat
Kabupaten, selain itu ia juga aktif berkegiatan di OSIS dan Pramuka. Sejumlah
sertifikat prestasi dan kegiatan itu lah yang menjadi bekal Nurhayati bisa
berkuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad). Nurhayati berkali-kali gagal
diterima di universitas negeri melalui jalur SNMPTN, SNMPTAIN, dan SBMPTN namun
dinyatakan tidak berhasil. Hingga pada akhirnya Nurhayati mencoba jalur Seleksi
Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP). Nurhayati yang mengikuti jalur seleksi
masuk Unpad berbekal raihan nilai yang baik dan sejumlah sertifikat itu
akhirnya dinyatakan diterima sebagai Mahasasiswa Perpajakan Unpad, bukan hanya
itu, Nurhayati juga diterima sebagai penerima beasiswa pendidikan dari program
Beasiswa Unggulan Kemdikbud.


Di kampus, Nurhayati melanjutkan kebiasaan
untuk terus beroganisasi dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Berkegiatan
positif merupakan salah satu cara Nurhayati mengusir rindu akan keluarga yang
masih tinggal di Malaysia. Nurhayati juga menitipkan salam pada cabepedas.id
pada adik-adik kelasnya di Sabah agar terus bersemangat dalam belajar dan
menggapai cita-cita. “Tetap semangat
buat belajar walaupn banyak kekurangan maupun rintangan, Karena jika kita sudah
berniat untuk belajar, Allah pasti memberikan jalan” ujarnya.

0 komentar:
Posting Komentar