Meski Telat, Aku Mau Sekolah

Meski Telat, Aku Mau Sekolah 
Rasmir dengan Guru dan Mahasiswa Magang

Lelaki berbaju merah itu nampak seperti anak-anak kebanyakan, seorang remaja yg sedang tumbuh besar dan penuh dengan cita-cita. kalau berjumpa tentu kau mendapati mukanya yg ramah sambil tersenyum.
Rasmir namanya, seorang anak laki-laki keturunan Indonesia yg lahir di Malaysia. Ayah dia adalah seorang pria kelahiran Minang yg merantau ke Malaysia pada zaman peralihan Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. Semenjak itu ayahnya yg lebih akrab disebut dengan Pakcik Syam ini lebih sering tinggal di Malaysia dibandingkan di Indonesia, ia pun mendapatkan kewarganegaraan Malaysia, tetapi tidak dengan semua anak-anaknya.
Rasmir sempat meneteskan air mata, ketika menerima surat dari salah satu sekolah di Malaysia. ketika itu isi suratnya adalah ia tidak boleh lagi bersekolah di sekolah kerajaan Malaysia. kelengkapan dokumen yg tidak memenuhi syarat adalah alasan umum yg sering didengar oleh anak-anak keturunan Indonesia di Malaysia.
Kakak-kakak Rasmir ada yg berstatus sebagai warga negara Malaysia, tetapi 1 kakak lelaki dan dua adiknya masih terkatung-katung status kewarganegaraannya, istilah stateless nampaknya cocok untuk menggambarkan kondisi mereka, di Malaysia tidak diakui  tetapi di indonesia pun belum terdaftar.
Rasmir anak yg rajin dan punya semangat yg tinggi untuk bersekolah, dan ia tidak malu jika memang harus belajar bersama dengan anak-anak yg berusia lebih muda. Pada umur 19 tahun Rasmir mendaftar untuk ikut ujian kesetaraan paket A di KJRI Johor Bahru. meski begitu, Rasmir tidak ragu untuk ikut belajar bersama teman-teman lain yg berusia jauh lebih muda di ICC Johor Bahru.
Pada umur 20 tahun ia mendaftar kembali untuk mengikuti kelas paket B di KJRI Johor Bahru. Banyak orang mengurungkan niat untuk bersekolah karena merasa sudah terlambat, tetapi rasmir tidak malu dan terus bersekolah. Ada hal lucu ketika ada salah seorang guru PLP dari Universitas Pendidikan Indonesia yg dikirim untuk mengajar di KJRI Johor Bahru. Usia guru tersebut sama dengan usia Rasmir.
Rasmir mepunyai satu kakak dan satu adik yg memiliki nasib serupa, yakni tidak boleh bersekolab di sekolah kerjaan malaysia. Kakaknya yg bernama rizal sedikit lebih beruntung karena rizal masih boleh untuk bersekolah hingga tamat jenjang SMA di Malaysia. karena pada ketika itu Malaysia masih memperkenankan orang Indonesia kelahiran malaysia untuk bersekolah.
Adiknya yang bernama Ryanda, mengalami nasib seperti Rasmir, karena tidak boleh bersekolah. Bahkan saat tulisan ini dibuat, Ryanda sedang ditahan oleh polisi Malaysia, karena ketidaklengkapan dokumen untuk tinggal di Malaysia. Ryanda telah lulus ujian paket A, dan sebenrnya sedang mengikuti kelas paket B, tetapi Ryanda tidak bisa mengikuti ujian karena sedang dalam tahanan polisi Malaysia.
Kembali ke Rasmir, saat ini Rasmir sedang dalam usaha untuk melanjutkan belajar di Indonesia, tepatnya di SMK di jawa tengah. Rasmir yg telah mengikuti ujian PAKET B, sedang menunggu hasil pengumunan agar dapat meneruskan sekolah di Indonesia.
Perihal kepulangannya ke Indonesia juga bukan perkara ringan karena keberadaaannya di malaysia selama ini ilegal. KJRI Johor Bahru terus berupaya memberikan dukungan penuh pada rasmir agar dapat bersekolah di Indonesia, dan dapat menetap di Indonesia. sehigga Rasmir kemudian tidak perlu lagi bermain petak umpet dengan polisi dan imigrasi dari kerajaan Malaysia.
Orangtua Rasmir yang Sangat ingin Rasmir 
kembali bersekolah ke Indonesia

Akhirnya mereka bersekolah
HIngga berita ini diturunkan, Rasmir beserta salah satu kawannya yang bernama Haiqal Daniel telah kembali ke Indonesia dan diterima sebagai siswa SMK Assalamah di Jawa Tengah.  Adik Rasmir yang bernama Ryanda pun menetap di Batam Indonesia, tepatnya di Daarut Tauhid Batam.
Salah seorang guru mereka yang bernama Rahmadi Diliawan mengantarHaiqal Danial dan Rasmir bertolak dari Johor Bahru melalui Pelabuhan Stulang Laut menggunakan Feri menuju Batam pada tanggal 7 Agustus 2016 setelah dilepas oleh Konsul Jenderal RI; Taufiqur Rijal di Wisma Indonesia.
Kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan  transportasi udara dari Bandara Hang Nadim menuju Bandara Juanda Surabaya. Sekitar pukul 20.00 ketiga nama tersebut tiba di Bandara Juanda untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Terminal Purabaya Sidoarjo dan tiba pada pukul 21.00.
Setelah bermalam di penginapan sekitar Terminal Purabaya, sekitar pukul 10.00 pagi tanggal 8 Agustus ketiganya berangkat dari Terminal Purabaya menuju Pati Jawa Tengah. Perjalan memakan waktu sekitar 4-5 jam. Pukul 15.00 ketiganya tiba di Terminal Pati kemudian menggunakan transportasi umum menuju SMK Assalamah.
Kepala SMK Assalamah; Bapak Zaidun menyambut baik kedua anak dari negeri jiran ini. Berbekal dengan ijazah Paket B, Rasmr dan Haiqal mengatakan keinginannya pada Bapak Zaidun untuk dapat bersekolah di SMK Assalamah. Rasmir dan Haiqal Danial kemudian diajak berkeliling sekolah dan melihat asrama yang kemudian akan menjadi tempat tinggal mereka. Mereka juga sempat bertemu dengan pemilik Yayasan Al Ikhlas yang merupakan induk dari SMK Assalamah.

Dengan perjalanan dan persiapan yang panjang, akhirnya mereka dapat ke Indonesia untuk bersekolah tanpa perlu takut oleh kejaran dari pihak berwenang di negeri tetangga.

0 komentar:

Posting Komentar