
Cara terbaik memahami budaya adalah melestarikannya. Indonesia kaya akan ribuan permainan rakyat. Tersebar dari ujung barat ke timur, dari utara ke selatan. Sementara ribuan itu berangsur padam eksistensinya. Apa lagi penyebabnya jikalau bukan serangan tekhnologi. Tekhnologi semacam wabah yang menyebar tanpa mengenal kasta. Semua terjangkit. Terpapar radiasinya. Kita patut waspada lebih. Pengaruh buruknya hampir seimbang dengan manfaatnya. Sebab itu menghidupkan kembali Permainan Rakyat adalah kewajiban kami sebagai tenaga pendidik SIJB.
Sekolah Indonesia Johor Bahru kembali meluncurkan program baru sebagai ajang penguatan rasa Indonesia pada Peserta Didik. Hidup di negara orang membuat para siswa secara otomatis terkontaminasi hal-hal berbau keanekaragaman budaya setempat. Sehingga apa yang menjadi budaya akar mereka terkikis. Cenderung terlupakan.
Menghidupkan kembali Permainan Rakyat adalah misi terdepan yang kami inginkan. Para siswa harus disadarkan pentingnya mengenal budaya nenek moyang sendiri. Bertempat di lapangan serbaguna SIJB setelah pelajaran terakhir usai. Seluruh siswa SD dikumpulkan. Pak Irman dan pak Wawan bertindak sebagai pemandu kegiatan. Pertemuan pertama ini mereka memperkenalkan lari batok kelapa. Peralatannya sederhana. Sebuah batok kelapa yang dibelah dua dan diberi tali yang menautkan keduanya. Maka lahirnya alat sederhana yang mengundang rasa riang gembira. Tanpa campur tangan teknologi kebaruan. Kami bisa menularkan semangat kebangsaan kepada Peserta Didik.
Hidup di zaman berbeda membuat adanya gap yang cukup lebar antara era kami (Guru SIJB) dengan para siswa. Sehingga apa yang periode kami berikan sebagai pelengkap bahan hiburan sangat berbeda pada saat ini. Era sekarang lebih menekankan kompetisi identitas. Bukan lagi mengedepankan semangat kebersamaan. Hal inilah yang harus kita kupas dari jati diri para Peserta Didik bahwa ada hal penyatu individualisme sesederhana batok kelapa bekas dan seutas tali.
Ke depannya secara rutin kami akan terus menularkan hal-hal berkaitan dengan Indonesia kepada para Peserta Didik. Diupayakan agar mereka terpengaruh dan berminat ikut melestarikan apa yang sempat terlupa itu. Sederhananya, mari ber-Indonesia meski itu di tanah yang jauh dari Republik. (Rahmat Suardi)

0 komentar:
Posting Komentar