Tak banyak orang yang mampu membuat karya tulis berupa buku, meskipun lahir dan besar di perkebunan sawit negeri Jiran, tangan aswan telah mampu membuat tulisan dan membukukannya, bukan hanya satu bahkan dua.
Lahir di Malaysia bukanlah pilihannya, orangtuanya
adalah pekerja di sebuah perkebunan sawit Malaysia. Masa kanak-kanak Aswan tak
seperti kebanyakan orang di perkotaan, di perkebunan sawit, pilihan terbaik
Aswan adalah untuk turut serta membantu orangtua bekerja di perkebunan.
Aswan sempat bersekolah di sekolah negeri
Malaysia, tetapi hal itu tidak berlangsung lama, dia terpaksa putus sekolah karena
dianggap tidak memenuhi syarat untuk bersekolah di sekolah negeri Malaysia.
Semenjak putus sekolah kegiatan yang dilakukan adalah ikut bekerja di
perkebunan Sawit serta berjualan kue di sekitar perkebunan.
Begitu lah kehidupan Aswan dari hari ke hari
hingga seseorang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
datang untuk menawarkan Ujian Kejar Paket A. Aswan tidak pernah lupa dengan orang
yang bernama Dedy Hermawan tersebut, dia adalah guru yang dikirim pemerintah
Indonesia ke negeri Malaysia.
Usia Aswan sudah menginjak 17 tahun, tawaran
berharga tersebut tidak ditanggapi dengan baik oleh masyarakat sekitar. Aswan
pun sempat ragu untuk menerima tawaran mengikuti ujian Paket A, apalagi
teman-temannya sering menertawakannya karena menganggap ujian tersebut tidak
berguna. Aswan mencoba menutup telinganya dari suara-suara tawa yang
menyudutkan dia ketika pulang kerja cepat demi belajar. Alhamdulillah, dengan
kemauan dan kerja keras, Aswan dinyatakan lulus Ujian Paket A pada usia 17
tahun.
Sempat minder dengan usia yang lebih tua
dengan usia sekolah pada umumnya, tetapi ucapan Dedy Hermawan yang selalu ia
ingat hingga sekarang memantapkan langkahnya untuk terus bersekolah. “Tiada
kata terlambat untuk belajar dan tiada sekolah yg tidak mau menerima siswa yg
mau belajar" ujar Hermawan pada Aswan kala itu.
Keluarga juga selalu menjadi penyemangat bagi
Aswan dalam menjalani hidupnya, orangtuanya yang bernama Amir dan Mardiana
selalu memberi dukungan untuk Aswan yang ingin kembali bersekolah.
Aswan mulai mengenal lagu Indonesia Raya semenjak bersekolah di
Sekolah Menengah Pertama Terbuka FICO yang berlokasi di perkebunan sawit
Malaysia. Dia merasa bersyukur pemerintah Indonesia membuka layanan pendidikan
hingga ke tempatnya, meski jauh dari Indonesia. Ketika mulai mengenakan seragam
putih biru, banyak orang yang memandang remeh pilihan Aswan.
Setelah lulus UN SMP, Aswan kembali
mendapatkan kesempatan berharga dengan diajukan sebagai penerima beasiswa untuk
melanjutkan sekolah ke jenjang SMA di Permata Insani Islamic Boarding School.
Kemampuan menulisnya memang sudah terlihat semenjak mengenyam pendidikan di
SMPT Fico (CLC Fico), dia pernah menjuari lomba menulis cerpen yang diselenggarkaan
oleh KJRI Kota Kinabalu dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu.
Di SMA Permata Insani, Aswan berhasil menelurkan
dua buku yang berjudul Setelah Gerimis (2015) dan Merantau
di Negeri Sendiri (2016). Tahun 2017 ini, Aswan telah diterima melalui jalur PMDK di salah
satu perguruan tinggi negeri di Indonesia, tetapi keinginan kuatnya untuk bisa tercatat
sebagai mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
atau mahasiswa Univeritas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia membuatnya mencoba
jalur SBMPTN 2017. Universitas Diponegoro dan Universitas Jenderal Soedirman
juga menjadi pilihannya untuk belajar pada jenjang pendidikan tinggi.
Keinginan kuat lelaki kelahiran 18 April 1994 ini sangat kuat untuk terus bersekolah, Ia sangat bersemangat untuk menggapai cita-citanya sebagai salah satu sastrawan Indonesia. Kecintaannya pada Indonesia laik mendapatkan apresiasi luar biasa, mengingat ia lahir dan besar sebagai anak pekerja di negeri seberang.
Aswan memiliki pesan khusus untuk adik-adik kelasnya yang masih tinggal di Sabah Malaysia agar terus berani bercita-cita dan bisa memberikan yang terbaik bagi Indonesia. "Jangan takut untuk bermimpi karena tiada siapa di dunia ini yg bisa melarang seseorang untuk bermimpi, tidak ada kata terlambat untuk belajar, indonesia menunggu kalian pulang", ungkapnya.
Keinginan kuat lelaki kelahiran 18 April 1994 ini sangat kuat untuk terus bersekolah, Ia sangat bersemangat untuk menggapai cita-citanya sebagai salah satu sastrawan Indonesia. Kecintaannya pada Indonesia laik mendapatkan apresiasi luar biasa, mengingat ia lahir dan besar sebagai anak pekerja di negeri seberang.
Aswan memiliki pesan khusus untuk adik-adik kelasnya yang masih tinggal di Sabah Malaysia agar terus berani bercita-cita dan bisa memberikan yang terbaik bagi Indonesia. "Jangan takut untuk bermimpi karena tiada siapa di dunia ini yg bisa melarang seseorang untuk bermimpi, tidak ada kata terlambat untuk belajar, indonesia menunggu kalian pulang", ungkapnya.




0 komentar:
Posting Komentar